Lanjutan dari
Ketiga, saya punya teman baru. Kami sempat keluar
beberapa kali, dan dia orangnya baik. Saya tidak ada masalah apapun dengan
sifatnya, until i find it annoying. Parah. Gimanasih bisa kebaikan orang yang
terus menerus itu malah akhirnya bisa jadi annoying? Saya juga tidak paham. Pertama,
mungkin dia tidak begitu paham ketika saya dari awal sudah cerita kalau saya
cuman cari teman, tidak lebih. Kedua, keinginan dia untuk menjadi lebih dari
teman while we are in different religion is just not my thing. Dan ketika dia
akhirnya bilang kalau dia menerima saya tidak bisa menganggapnya lebih dari
teman, dan akan berlaku seperti biasanya, walaupun saya mengiyakan, tapi tetap
ada rasa risih. Karena saya pada akhirnya tau, kebaikan-kebaikan dia itu bukan
kebaikan orang ke temannya, melainkan orang yang dia taksir. Dan saya nggak
suka. Apalagi saya ini orang yang nggak bisa menyembunyikan rasa tidak
nyamannya. Jadi saya ngga tau sih harus bagaimana. Di satu sisi demi inner
welfare saya sendiri ya saya boldly bilang, padahal saya tahu, sangat mungkin
untuk menyakitkan. Tapi kalau tidak, orang ini sepertinya muka tebal sekali dan
rasa-rasanya daripada saya memupuk benci, ya mending menyakiti sedikit, tapi
kelar.
No comments:
Post a Comment