Friday, March 2, 2018

Ketiga, saya punya teman baru


Lanjutan dari 

Ketiga, saya punya teman baru. Kami sempat keluar beberapa kali, dan dia orangnya baik. Saya tidak ada masalah apapun dengan sifatnya, until i find it annoying. Parah. Gimanasih bisa kebaikan orang yang terus menerus itu malah akhirnya bisa jadi annoying? Saya juga tidak paham. Pertama, mungkin dia tidak begitu paham ketika saya dari awal sudah cerita kalau saya cuman cari teman, tidak lebih. Kedua, keinginan dia untuk menjadi lebih dari teman while we are in different religion is just not my thing. Dan ketika dia akhirnya bilang kalau dia menerima saya tidak bisa menganggapnya lebih dari teman, dan akan berlaku seperti biasanya, walaupun saya mengiyakan, tapi tetap ada rasa risih. Karena saya pada akhirnya tau, kebaikan-kebaikan dia itu bukan kebaikan orang ke temannya, melainkan orang yang dia taksir. Dan saya nggak suka. Apalagi saya ini orang yang nggak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Jadi saya ngga tau sih harus bagaimana. Di satu sisi demi inner welfare saya sendiri ya saya boldly bilang, padahal saya tahu, sangat mungkin untuk menyakitkan. Tapi kalau tidak, orang ini sepertinya muka tebal sekali dan rasa-rasanya daripada saya memupuk benci, ya mending menyakiti sedikit, tapi kelar.

No comments:

Post a Comment