Sunday, July 30, 2017

STOP WILDLIFE TRADING CHAIN

Di antara liburan semester ini, saya menyempatkan untuk magang di salah satu tempat konservasi lutung jawa di area Malang, Batu sih lebih tepatnya. Tempatnya ada di kawasan wisata air terjun. Lutung-lutung di sana kebanyakan dari sitaan atau penyerahan masyarakat gitu, jadi sebelumnya entah dipelihara, diperjual belikan, atau juga dari pemburu yang salah tangkep, lalu disana dipersiapkan untuk nantinya dilepasliarkan di alam liar. Lutung jawa sendiri statusnya di IUCN itu vulnerable, terancam kepunahannya dari habitat alami. Saya disini ngga akan ngomong tentang morfologi, morfometri, tingkah laku dll nya lutung jawa, karena toh saya baru berkenalan dengan mereka beberapa hari aja, apalagi boro boro ngomongin medisnya, mahasiswa semester 4 kayak saya bisa apa. Maaf ya. Blog ini emang ndak mutu. Saya lebih suka cerita tentang kegemesan saya sih. Kegelisahan, lebih tepatnya. Gimana orang-orang di luar sana masih suka pelihara hewan-hewan langka, mungkin biar dianggap keren, karena langka, ngga banyak yang punya. Ngga usah jauh-jauh deh, bapak saya pun suka excited kalau dia lagi ke pasar hewan, iya beliau hobi banget ke sana, lalu tau-tau liat trenggiling, kukang bahkan, lalu nawarin saya mau nggak pelihara itu dirumah?

Jadi mindset beliau, kasihan hewan-hewan itu dipeliharanya di kandang kumuh sama pedagangnya, kita beli aja biar maksudnya nolong hewannya, biar hidupnya lebih welfare, welfare menurut dia. Saya pun waktu kecil juga sama pikirannya kayak gitu. Saya dulu juga paling seneng kalau diajak bapak saya ke pasar hewan, lalu bolak balik beli kelinci, dan saya bangga dong bisa membebaskan 2-3 kelinci dari kandang kumuh si pedagang, ya walaupun berakhir saya kandangin lagi dirumah😂😂, dan berakhir pula dikasih makan brownies dari kulkas dong sama emak, yang dulu sempat bantu-bantu dirumah, akhirnya diare, dan sikelinci meninggal.

Padahal enggak, reality doesnt work like that. Elu beli hewan, hewan masuk kekandang rumah lu yang lebih mewah dari kandang sipedagang, etapi kandang si pedagang tadi kosong dong? Ya si pedagang cari stok lagi. Same ways with wildlife trading. Kalaupun lu berniat membeli lalu kemudian elu akan nyerahin ke BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), sama aja, the wildlife trading chain wont stop that simple. Sipedagang akan terus memutar rantai dan lu bikin rantai itu lancar berputar. Lagian emang lu bakal terus terusan beli hewan itu? Yah saya juga bermimpi sih dulu, sambil ngelewatin jalan di pasar hewan, kalau punya duit, bakal saya beli semua, lalu saya lepasin di alam. Tapi sekarang bahkan saya baru tau. Proses dari penyerahan binatang-binatang itu setelah masuk ke tempat karantina sampai akhirnya dilepaskan itu nggak gampang. Butuh banyak proses untuk mengembalikan hewan itu ke naluri alamiah aslinya. Entah ada yang pas dipelihara dikasih makan ayam sama nasilah, keju, dll. Menurut lu setelah penyerahan, udah gitu, langsung dilepas di alam? Menurut lu emang mereka, si hewan-hewan ini yang lu kasih makan macem-macem yang ngga sesuai dengan alamiahnya mereka, bakal survive di alam? Mereka butuh penyesuaian dulu. Karena ngga mungkin kalau dilepasin gitu aja, sebelum mereka kembali ke naluri alamiahnya, menurut lo mereka bakal nemu paket nasi ayam goreng ataupun keju di alam liar?

Meskipun saya tau banget, hewan-hewan itu lucu banget parah. Lutung jawa yang saya temuin kemarin parah-parah banget lucunya. Ada namanya Moses, lutung jawa umur 1.5 tahun yang kalau saya bawa rerumputan kaliandra di dekapan tangan saya dan nyamperin kandangnya, dia bakal bersuara kayak ketawa, kelihatan giginya, lucu parah lah pokoknya. Kayak bayi. Bahkan saya lebih suka bercandain si lutung balita ini daripada bayi-bayi sepupu atau ponakan saya. Kata keeper di sana, si Moses ini manja banget. Kalau kandangnya dibuka dan dia dilepas, pasti dia minta gendong, mungkin karena dulu juga dia kebiasaan dimanja sampe sampe dibawa tidur dipeluk sama pemiliknya.

Tapi tidak lantas dengan segala macem kelucuan mereka, atau kesanggupan kita memelihara yang menurut kita melihara dengan welfare, lalu kita udah aja gitu melihara mereka dirumah. Lu juga harus memikirkan zoonosis yang bisa makin merajalela kalau kita saling hidup berdekatan dengan mereka sehari-hari. Biarlah satu hewan di kandang pedagang merana ngga kita beli, tapi ngga akan ada lagi kedepannya. Its better to sacrifice one to save the other.

Intinya sesuatu yang ngga sesuai kodratnya akan berakibat fatal. Jadi mending kalau elu pingin tuh liat liat satwa liar, ya pergi aja ke taman nasional, puas-puasin pengamatan. Lihat betapa damainya mereka hidup di alam liar, dibanding di balik jeruji kandang.

Salam lestari!

Thursday, July 27, 2017

Having a talk with a "friend" that i barely talk for years

It is that afternoon i went to cinema with that friend, watching my one and only darling on the screen playing war that is endless, feeling tense throughout the film bcs the neverending war, shotgun here and there. After that me and that friend went to a bookstore across the street next to cinema. While looking around romance novel that i want, we talked about things going on our life. This friend, that friend. Also our thought, about how relationship should be works, youth, dreamjob that i want, whats going on his campuslife, also mine, religion too. I am quite surprised i met this friend that is surprisingly religious. I mean. Its quite charming though. I meaaaann terharu aja gitu ternyata saya masih punya teman laki yang bener. Jaman sekarang, di jaman saya dan di lingkungan saya ini, entah saya aja yang terlalu bodoh untuk memilih lingkungan, susah loh untuk nemuin teman laki-laki yang ternyata 2 jam sebelum nonton lagi nongkrong di masjid, baca Al Quran. Mashaallah. Kagum sih saya. Karena selama ini saya cuman nemuin aja gt orang orang yang liberal, bahkan sering yang simply masih belum nemu urgensinya dalam menjalankan ibadah 5 waktu di agama saya. Saya bukannya lagi mengkritisi mereka sih, krn saya akuin sayapun masih sering kelewat toleransi sama agama, pikirannya masih terlalu liberal. Aduh ini jd ngomongin agama gini ya. Iyasih saya lagi bener bener mikir tentang hal ini. Berhubung saya juga pagi tadi habis dari kajian, iya saya ginigini, meskipun jarang, tapi masih ikut kajian religi biar menjaga otak saya tetap waras, yang mana ada quotes dari pengkajinya,

"mereka yang memegang teguh prinsip agama itu layaknya memegang bara api di telapak tangan."

Intinya berat banget karena saking banyaknya maksiat di sekeliling. Dan saya rasa bener banget karena ini yang saya rasa sekarang. Jujur jadi salut banget sama teman saya ini dan jujur kagum parahh mashaallah. Dahsih gt aja. Dan dari resolusi saya sebelum ini, yang sudah saya lakukan hari ini sama dia, melahirkan resolusi selanjutnya karena this little talk with that friend. I sincerely thank him.

Thursday, July 13, 2017

10 things.

I like the way we talked. I just remembered the way we spent time talking in your car, when you were just taking me home after hanging out with the other friends. The way you asked me what am i read bcs you dont know what to talk about and it was so obvious so that i giggled. And after that talking is way more simple and easy than i thought it would be. With you.
I like the way you made me visible. I was a nerd. Well until now sih. But not that nerdy as i was in highschool. I am invisible. I cant even talk to people that is new to me. That is explaining how i dont really know my fellows even if we shared the same highschool. And im not really sure how you are making me into, uhm, humble person (YOU TOLD ME) but what im sure is i became like that after i met you.
I like how good your manner is. To woman, even man itself. I mean. Even gays are fanboys you. Lol.
I like how youre introducing me to local arts, and hype places.
I like how we actually are pleasent, have no awkward feeling at all, with one another, when its only both of us, even with your friends, or mine.
I like how you have the same vision with me when it comes to relationship. How we are so gemash with the way our surrounding embracing their youth, wasting their youth like it came twice in their life.
I like the way you are healthy with your unhealthy lifestyle. And how proud you are, compared to me. Steamed broccolly, not smoking,  having a good sleeping habits (9hours a day!!), but i always the one that easier to infected by disease than you.
I like the way you werent complaining taking me home after hanging out even if its far away from your place.
I like the way you eat onions from my plate.
I like the way you are sincere.
But you know what. Id rather lose a lover  than a friend. That explains everything.

And you found a new home.
And i should be happy, Stars&Rabbits says.

Sunday, April 30, 2017

Me being Lacto-ovo vegan

I think writing is the most right thing to do. I regularly kept my personal diaries in the past, which never succeeded being a personal-secret-diaries longer than a week bcs ya kalo ngga dibaca sama kakak ya sama mbak yang momong aku terus mereka ketawa ketiwi gt baca tulisannya. And year has changed so i moved to blog. Its not that im good at writing or i want to be some kind of a blogger. I dont recommend people either to read my blog. Writing is kinda therapy for me, after bad days, even on good days. Also by writing I can remember how things made me feel on certain day or places. Jadi in a year or so, I can see how I’ve developed myself as a person and I can evaluate myself so that I can be better next time. Jadi ya kalau kalian ngomongin ngapain sih lo na curhat-curhat gt di blog. Ya. Terserah sih mulut mulut kalian. Ehe.

Anyway. for the past month i’ve tried being a Lacto-ovo-vegetarian. What is it the lacto-ovo-vegetarian? Firsty first, vegetarian is someone who consumes a diet consisting mostly of plant-based foods, including fruits, vegetables, legumes, nuts, seeds and grains. And there are 4 main types of vegetarian diets : (1) a vegan doesnt eat any animal product, including meat, fish, poultry, eggs and dairy products; (2) an ovo-vegetarian, who eats eggs but no dairy products, meat, poultry, or seafood; (3) a lacto vegetarian eats dairy products but not eggs, meat, poultry or seafood; and the last is what ive been trying to do (4) a lacto-ovo-vegetarian diets. Who consuming dairy products and eggs but no meat, poultry and seafood (taken from American Journal of Lifestyle Medicine, written by Kate Marsh, Bsc, MnutrDiet, PhD., Carol Zeuschner, Bsc, Msc, and Angela Saunders, BS, MA, titled Health Implications of a Vegetarian Diet : A Review).

Na bukannya lo pernah bilang lo against vegan ya?

I did. Well here’s the story. I dont know though but im starting to think that i have enough meat and chicken. Nih ya. Hidup di jogja dengan ngekos tanpa orang tua bikin makan jadi ambil yang enak-enaknya aja. Satu hari yang bikin saya jadi berpikiran untuk mulai menjalani diet Lacto-ovo-vegan, sehari itu saya makan tiga kali sehari dan semuanya sama menunya dari ayam, lalu jajan streetfood bahan ayam lagi, dan kemudian di malam harinya saya entah gimana datang motivasinya apakah ini pertanda dari Tuhan but i read journal about antibiotic residue in meat. Intinya di produk peternakan itu tidak sedikit yang memakai antibiotika sebagai terapi ataupun imbuhan pakan jadi bisa meningkatkan produksi ternak & bisa kejar target sesuai yang diinginkan peternak. Namun kan kalau si pemberian antibiotik ini tidak beraturan bisa menyebabkan residu di jaringan atau organ hewan, dan residu ini bahaya buat kesehatan si pengkonsumsi. Entah bisa reaksi alergi, peningkatan kepekaan, sampai reaksi resistensi gara gara konsumsi si daging yang mengandung residu antibiotik ini dalam jangka waktu yang lama, meskipun seberapapun rendahnya konsentrasi di antibiotik ini. Saya kurang paham juga sih tentang distribusi bahan daging di negara saya ini seperti apa, apakah sudah dianalisis untuk pemeriksaan residu segala cara atau tidak, sebelum didistribusikan ke masyarakat, jadi saya kinda have a doubt buat konsumsi daging.

Dan rasanya kalau saya ngga mulai untuk tegas saya mau diet begini, kayaknya saya ngga bisa lepas dari daging dan ayam sih, karena jujur meats are my favorite. Bahkan saya kadang merasa kalo udah lama ngga makan daging berasa lemes. Me and my dad share the same thought though hahaha. dan sekarang setelah kurang lebih sebulan ngga makan daging, ternyata saya baik-baik saja dan ngga terlalu craving for meat sih. 

Lalu kenapa dulu saya against vegan? Entah ya tapi dulu itu lagi banyak-banyaknya postingan di social media, gembar gembor tentang bahayanya makan produk hewani which is not all true. And also they are adding some of how animals are being treated badly, how farms are exploitating animals to fulfill our needs, so thats how we should be a vegan. Maybe some of farm did that but not all of them. Intinya mereka itu terlalu menuntut animal rights. Its not that i support animal exploitation or animal abuse though. Ya sama ajalah kayak konsep konservasi yang tiap orang beda-beda, ada yang seharusnya mereka being free in their natural habitats, atau ada juga yang mendukung untuk konservasi insitu selama animal welfare (the five freedom)nya jalan. Sama juga kayak konsep animal rights di farming, untuk tiap pikiran orang. Some of them (the vegans who write article that i read) think that those farm animals are should be free in their natural habitats, that we should not interfere their life gt deh. Mana ada yang lebih judgemental lagi, bahwa kita-kita ini yang masih makan daging is non other than a murderer. Wow serem. Saya penganut yang kedua sih, the animal welfare one. Jd true reason kenapa memilih untuk tidak makan daging (terutama ayam) sementara waktu ini yha karena health issues ajasih. Tidak menutup kemungkinan nantinya saya stop lacto-ovo-vegan juga. Mungkin saja health issues yg saya tau sekarang mengalami perkembangan baik. Ye ga.

Begitu ceritanya. 

Sudah segitu saja. Wassalamualaikum.  

Thursday, March 9, 2017

How not to die before 20. [SURVIVAL LIFE KITS]

Good things that i am turning 20. Alhamdulillah puji syukur Tuhan. so here’s my survival tips

Dont smoke.
Dont drink. You know. That drink.
Eat vegetables. I recommend you steamed broccoli. Good for your heart.

apasih. Gamau congkak takut kualat diambil nyawanya. Whoa. Bad joke.

So in this 20 years old some thing that i discovered something that i want to share with you what am i became in this year

I am still being a second year vetmed student and i am not like her who’s ‘’kalian semua suci aku penuh dosa” and also “tapi sejak remaja ku tak meminta biaya untuk nananana (ga hafal)” , nope, im still relying everything to parents. am i proud? No.

Anyway. 20 years is a year when you are realized your parents is much older than you ever thought. I mean. Look at their white-grey ash hair. Meskipun ada merah-merahnya dikit on my father’s hair sih bcs he’s colouring his hair. And how their wrinkles on the side of their eyes. Gue merasa bahwa gue menghabiskan lebih banyak waktu untuk banyak menuntut ini itu ke mereka sampai pada akhirnya gue lupa untuk memikirkan gimana di agama gue harus berbakti sama mereka. Dan gimana menyesalnya gue kenapa gue malah memilih terpaut jarak ratusan kilo daripada gue nemenin mereka di hari tuanya. Well maybe my parents is not that old (they’re fifty something). But still though. Rasanya sekarang lebih pingin pulang untuk sekedar quality time, brain storming, atau sekedar ngomongin issues di depan tv atau sekedar ongkang-ongkang dibelakang rumah sambil ngeliatin ibu saya mengawinkan tanaman markisanya, atau doing something together just like we used to daripada keluar sama temen ngeluyur kemana mana (etapi masih sih cuman sekarang udah ngurang-ngurangin gitu).

Not only your parents. your sibling too. kayak. ketika lo baru sadar bahwa umur kakak mu sudah di umur-umurnya orang nikah. omg aging is scary. That is why people inventing anti-aging. 

And i think in this 20 years old of mine, i just discovered how people really is. How a man is. I think merantau is telling me so much more than before. Beneran dah. Kalo masih di Malang kayaknya ku tidak akan mendapat this kind of problem issues.

The thing is how you know more abt ppl but then its getting more daunting to socialize. And i tend to choose having a sceptical mind. I hate to say this its like youre bodo amat to everything because in the insubconscious mind (is that a word lol i mean alam bawah sadar) theres nothing ended up happily ever after. Except lo masuk surga. I dont know what really affects me. i think its bcs of what I really expect when i am turning 20 and what am I ended up to.

So what am i expecting?  

Having a really good friend that knows you well dari bibit bebet bobot. I had sih. Had.

I did have a really good friend that i am counting to for the past 2 years but then everything is collapsed only in a night because of a thing that i kno just earlier and that makes me felt really sick of him and then i kinda traumatized and things got so much hard to do apalagi dengan orang yang kayak saya yang udah banyak dibilang orang kalau hatinya udah mati terus diginiin jd makin skeptis aja lah ya. But then the show must go on, i already (trying to) forget things that happen and good things to know that i am kinda have a short-term-memory jadi yha everythings fine now. ‘Everything’ I mean me. not us.

And jfyi i did have a relationship with a nice person but i ended up hurting him & i dont even know now. I am the one whos hurting but i think i am hurted even more pdhl he’s done nothing to me. i am hurted because i am hurting someone. Is that make any sense? Although sekali lagi everything’s fine now even if we dont talk anymore lol. Good to know too i am easy to moving on. I dont kno that i am on denial or not but i am feeling nothing that i shud worry about. Except my drh title sih. Sama responsi, uts & uas. Sama ibadah gue. & am i good enough to parents. wah banyak jg.

Dahlah pokoknya begitu.
Sekian life updatenya.

Wassalamualaikum.