Malam ini aku baru aja telfon ibu,
dengan inisiatifku sendiri, tanpa embel-embel duit sangu bulanan habis. Simply karena
kangen dan kebetulan lagi ngga ada kerjaan, plus pengen ngobrol sekalian
menenangkan diri mengingat besok adalah hari Senin, kembali ke rutinitas
perbudakan alias koas. Niatnya sih begitu. tapi semua berubah begitu dering
videocall diangkat, dan setelah kami mengucap salam tentunya.
Aku lupa aku bukan Prajna di
semester – semester awal kuliah, yang ideal, yang nggak jerawatan, yang dagunya
nggak mbleber mbleber. Selupa itu sampe bikin nangis karena bukannya kalimat
menyenangkan seperti yang aku bayangin, tapi malah
“ya ampun nduk itu kok jerawatmu
gede”
“kamu katanya koas nanti kurus,
mana?”
“nduk itu dagu apa dagu nduk?”
Hehe.
Sensitive banget ya? seorang Prajna
setelah diginiin sama ibu sendiri langsung mewek kesel. Kalau kurang bisa membayangkan
emosinya seperti apa, coba tonton film Imperfect. Kalau di tanggal-tanggal
sekarang ini sih masih ada di bioskop. Waktu aku nonton, jujur, semerinding
itu. Karena filmnya ngangkat issue yang I can relate banget dengan aktris
utamanya. Berapa kali deh aku ngomong ke temen nonton ku saat itu,
“gila aku pernah diginiin”
“ih aku juga sering diginiin,
anj***********”
Sama-sama punya saudara kandung (in
my case, kakak) yang lebih cantik, langsing dan putih, while I was ugly right
from the start.
Sama-sama insecure, ofcourse.
Sama-sama punya lingkungan yang
toxic. Even dari keluarga inti.
Tapi bedanya sih ya saya ngga punya
pacar seganteng Reza Rahadian aja gitu.
Bagaimana seorang Rara berubah dari
yang nggak ngerawat badan ke ngerawat badan pun, sudah saya lalui sebelumnya. Bedanya
Rara sudah menemukan jati dirinya, nggak insecure lagi dan keluarganya sudah
menerima Rara for whatever she is tanpa ada body shaming lagi. Dan aku belum. Until
now.
Aku sudah merasakan gimana rasanya
punya badan yang bisa muat ke ukuran standar wanita, muka yang nggak punya
bopeng dan cerah. Terawat lah intinya. Prajna di awal-awal semester di Jogja
itu prajna yang lagi puber banget, pengen ngerawat diri banget. Ada bruntusan
dikit di muka, langsung facial. Untuk pola makan pun, jaraang banget makan
karena belum ada temen makan dijogja plus belum nemu makanan yang cocok waktu
itu. Makanya bisa kurus. Pun, dulu punya pacar yang kurus tinggi dan putih
macem oppa-oppa. Lol. Sorry banget plis jangan baca ya mas adit. Jadi rasanya
kalau aku nggak jaga badan dan muka, ya minder lah!! Berasa kayak itik buruk
rupa aja kalau lagi jalan sama doi. Di saat masa – masa itu justru aku sangat
jarang olahraga. Intinya nggak makan aja yang bikin cantik. Tapi jujur ngga
sehat banget. Tekanan darahku saat itu rata-rata 90/60. Sempet kena anemia
juga. Happy nggakk gue menurut lo?
Sekarang? Well I consider myself
happier than before tho. My blood pressure is around 115/70, I don’t really
feels like I have anemia anymore, karena udah nggak nggliyeng nggliyeng pula
even when I stopped taking obat tambah darah saat menstruasi.
Aku nggak kesal dengan badanku yang belum
bisa tipis lagi, tapi aku kesal karena kenapa aku harus diperlakukan seperti
ini? I don’t deserve all of this. Bcs they just don’t know anything. They dont know what ive been through. I mean i know i have those big chin big butt big thigh so you dont have to remind me. Me myself too, have been through ups and down to accept all this things, so i dont really need to be reminded. Aku kaget dengan fakta bahwa circle terdekat lu, dimana keluarga primer bisa
setoksik ini.
Ive always been communicating this
issue to them tho, if that’s what youre wondering. I have always tell them that
Im feeling healthier this way, im feeling more alive than ever. Tapi aku bukan
tipe macem Rara di film Imperfect yang bisa throwing tantrum, nangis sedrama
itu untuk minta nggak diperlakukan “bodyshaming”. Yet apakah karena aku tidak
menunjukkan kalau aku nggak sakit hati, lantas nggak diambil pusing kali ya?
Mungkin ngga usah telfon sering –
sering, dan ngga usah pulang kampung sering – sering adalah solusi yang aku ambil saat ini. But then I don’t
know what happen next when I already graduated tho. Being back with the family. God help me. Semoga bisa
ketemu “Dikanya Rara” lalu cepet ngawinin eug lalu pergi ke ujung dunia dan
toxic free! Gila ngayal pol. Tapi aminin deh. Amin.