So I have something to spill lately,
karena aku orangnya lagi gabut dan nganggur banget, coass starts at the end of
this month so apparently I have like 3 weeks kosong… belajar kaga, punya
kerjaan atau kesibukan juga engga.
I always said that I have no urge on having child. I might don’t want to have it sih. And people have always been like surprised and tell me not to say that. “Pamali, nanti kamu kalau ngga dikasih beneran gimana”. LAH YA KAN ITU YANG EUG MAU YA, GAK PUNYA ANAK, TRS YA KALAU GA DIKASIH YAUDAH GAPAPA KAN BERARTI. Wkwk. Ngga ngga, kurang lengkap. Seharusnya yang dia bilang sih “nanti kalau sama tuhan km ngga dikasih anak, ketika saat itu kamu pingin banget punya anak, gimana?”. Begitulohhh. Intinya saya selalu disalahkan. Either “menyalahi kodrat wanita”; “menolak rejeki tuhan”; “liberal”; etc.
Nggak paham juga kenapa orang –
orang bisa dengan mudah judge liberal.
Ketika saya berusaha mengurai
pikiran – pikiran saya kenapa bisa jadi gamau punya anak, aku rasa aku punya
trauma masa kecil. Bukan that kind of trauma yg karena abusive parents, etc. jadi
kondisi saya saat masih kecil, ibu saya full time banker. Im not going to have
a rant bcs I have a workaholic mother etc. Aku paham kondisi ibu saat itu. Ibuku
anak pertama dari 5, atau 6 ya saya lupa, dan orangtuanya, well, financially cukup tapi mepet. Bukan yang
miskin banget tapi ya untuk nyekolahin 6 anak mah gempor uga. Jadi ibu saya
masih punya tanggungan untuk bantu – bantu keluarganya. So otomatis, dengan
bapak saya juga yang sebenernya sih guru PNS, punya waktu banyak, tapi saya
juga nggak ngerasa punya cukup quality time dengan beliau krn beliau juga nggak
momong saya, kindof punya dunia sendiri, jd otomatis saya adalah “anak mbak”. Tapi
mbak berhenti kerja sekitar saya kelas 2 atau 3 SD, dan masa transisi dari
pergantian “mbak” agak lama, jadi saya sering banget sendirian dirumah. Saya ngalamin
tuh, pulang sekolah jalan kaki dari sekolah ke rumah, ngambil makan siang catering
di rantang yang digantung di teras rumah. Makan siang sendiri. Saampe malam dating.
Belajar pun sendiri.
Not bad ya, tapi sedih kalo nginget
lagi. Karena lingkungan saya saat itu kebanyakan punya full time mother yang
jemput, pekerjaan sekolah dikerjain, etc. jadi rasanya iri aja. Dan yang saya rasakan
sekarang rasanya saya ini produk didikan yang gagal. Walaupun saat itu saya
juga sering juara di SD. SMP maupun SMA juga masuk sekolah yang nggak buruk
buruk banget, dan saya juga nggak yang melakukan kenakalan remaja. Yang orang
lihat, I did it well even I have no full supports beside me. Ya tapi simply
karena saya orangnya nggak tantrum aja.. nggak yang sampe melakukan kenakalan
remaja ngerokok, jadi punk, keliaran di jalanan sebagai bentuk pemberontakan.
Yang saya rasakan, I grew as a
person with less empathy. Saya peduli keluarga saya, tapi I feel it when its on
urge, I might put my family later. Saya bisa bersosialisasi, but still I have
those anxiety when talking to someone new or facing new surroundings. Saya introvert.
Saya benci banget sebenernya jadi introvert. Yang mungkin orang – orang lihat
saya terlihat enjoy dan supel, no man, you salah besar. Saya bisa kyk gitu juga
karena I worked hard for it. And its tiring.
Ive never told anyone about this
before. Karena rasanya drama banget. Saya ngga suka dicap sebagai orang yang
kurang rasa syukur atas hidupnya. So I just buried it faar away beyond reality.
& I don’t want any individual to
feel the way I felt when I was child, apalagi individual yang saya bikin alias
anak. Memang ada cara untuk tetap punya anak dan not let them feeling it. Ya by
being full time mother kan? But no, idealisme saya di umur 22 tahun ini masih memberontaq.
Being full time mother, artinya ya lu cuman berpengaruh langsung dengan anak lu
atau keluarga lu, not society outside your circle. I still want to learn
something outside the world, and not from home. Besides, saya juga ngga demen demen
amat dengan anak kecil that’s why gue bisa tega bilang “I think I don’t want to
have a child when I have married”.