Friday, August 30, 2019

anak bawang 22 tahun ngomongin maternity


So I have something to spill lately, karena aku orangnya lagi gabut dan nganggur banget, coass starts at the end of this month so apparently I have like 3 weeks kosong… belajar kaga, punya kerjaan atau kesibukan juga engga.

I always said that I have no urge on having child. I might don’t want to have it sih. And people have always been like surprised and tell me not to say that. “Pamali, nanti kamu kalau ngga dikasih beneran gimana”. LAH YA KAN ITU YANG EUG MAU YA, GAK PUNYA ANAK, TRS YA KALAU GA DIKASIH YAUDAH GAPAPA KAN BERARTI. Wkwk. Ngga ngga, kurang lengkap. Seharusnya yang dia bilang sih “nanti kalau sama tuhan km ngga dikasih anak, ketika saat itu kamu pingin banget punya anak, gimana?”. Begitulohhh. Intinya saya selalu disalahkan. Either “menyalahi kodrat wanita”; “menolak rejeki tuhan”; “liberal”; etc.

Nggak paham juga kenapa orang – orang bisa dengan mudah judge liberal.

Ketika saya berusaha mengurai pikiran – pikiran saya kenapa bisa jadi gamau punya anak, aku rasa aku punya trauma masa kecil. Bukan that kind of trauma yg karena abusive parents, etc. jadi kondisi saya saat masih kecil, ibu saya full time banker. Im not going to have a rant bcs I have a workaholic mother etc. Aku paham kondisi ibu saat itu. Ibuku anak pertama dari 5, atau 6 ya saya lupa, dan orangtuanya, well,  financially cukup tapi mepet. Bukan yang miskin banget tapi ya untuk nyekolahin 6 anak mah gempor uga. Jadi ibu saya masih punya tanggungan untuk bantu – bantu keluarganya. So otomatis, dengan bapak saya juga yang sebenernya sih guru PNS, punya waktu banyak, tapi saya juga nggak ngerasa punya cukup quality time dengan beliau krn beliau juga nggak momong saya, kindof punya dunia sendiri, jd otomatis saya adalah “anak mbak”. Tapi mbak berhenti kerja sekitar saya kelas 2 atau 3 SD, dan masa transisi dari pergantian “mbak” agak lama, jadi saya sering banget sendirian dirumah. Saya ngalamin tuh, pulang sekolah jalan kaki dari sekolah ke rumah, ngambil makan siang catering di rantang yang digantung di teras rumah. Makan siang sendiri. Saampe malam dating. Belajar pun sendiri.

Not bad ya, tapi sedih kalo nginget lagi. Karena lingkungan saya saat itu kebanyakan punya full time mother yang jemput, pekerjaan sekolah dikerjain, etc. jadi rasanya iri aja. Dan yang saya rasakan sekarang rasanya saya ini produk didikan yang gagal. Walaupun saat itu saya juga sering juara di SD. SMP maupun SMA juga masuk sekolah yang nggak buruk buruk banget, dan saya juga nggak yang melakukan kenakalan remaja. Yang orang lihat, I did it well even I have no full supports beside me. Ya tapi simply karena saya orangnya nggak tantrum aja.. nggak yang sampe melakukan kenakalan remaja ngerokok, jadi punk, keliaran di jalanan sebagai bentuk pemberontakan.

Yang saya rasakan, I grew as a person with less empathy. Saya peduli keluarga saya, tapi I feel it when its on urge, I might put my family later. Saya bisa bersosialisasi, but still I have those anxiety when talking to someone new or facing new surroundings. Saya introvert. Saya benci banget sebenernya jadi introvert. Yang mungkin orang – orang lihat saya terlihat enjoy dan supel, no man, you salah besar. Saya bisa kyk gitu juga karena I worked hard for it. And its tiring.

Ive never told anyone about this before. Karena rasanya drama banget. Saya ngga suka dicap sebagai orang yang kurang rasa syukur atas hidupnya. So I just buried it faar away beyond reality.

& I don’t want any individual to feel the way I felt when I was child, apalagi individual yang saya bikin alias anak. Memang ada cara untuk tetap punya anak dan not let them feeling it. Ya by being full time mother kan? But no, idealisme saya di umur 22 tahun ini masih memberontaq. Being full time mother, artinya ya lu cuman berpengaruh langsung dengan anak lu atau keluarga lu, not society outside your circle. I still want to learn something outside the world, and not from home. Besides, saya juga ngga demen demen amat dengan anak kecil that’s why gue bisa tega bilang “I think I don’t want to have a child when I have married”. 

Thursday, August 15, 2019

Marriage thought

haha cliche banget anak baru kemaren sore nulis begini ya. Tapi sepertinya akan lucu ketika entah 10, 20 tahun lagi saya bisa baca gimana pikiran saya di umur 22 about this thing. 

So im pretty close to my mother, & she spills her grunts, her problem, her thoughts, semuanya lah. well maybe not all of them, tapi for me, untuk yang selama ini ibu saya ceritakan aja sudah "wow really? wow is that how life works? omg thats suck". yes. my mother is the one that keeps my feets on the ground. to face reality. I dont know if that is good or not, bcs thats how i know how life could be soooo much bitter. and how shes telling her thoughts makes me realize, im so much like my mother. Karakternya aja. Luar/fisiknya mah saya nurun bapak saya sekali. Tapi mulai gimana ibu saya mikir, cara dia expressing emosi, i think i got mine from her. I stay silent when im angry, annoyed, etc just like she did. dan semua kelakuan ibu saya, dengan bapak saya yang 360 derajat dengan ibu, makes their marriage, entahlah, i couldnt say it. It was good, sometimes, but when they bickering to each other, makes me wondering like "omg why and how come you two guys married", bahkan sampai "ok whatever. Gimana kalo you both considering to take the marriage to the court, by this i mean divorce, i dont mind at all, really". Karena ketika lu hidup and run the ship dengan orang yang visi misi nya ngga sama, yaudah, mau dibawa kemana juga kapalnya? Wont be a problem if you guys is open minded dan mau nerima pendapat orang, but heey remember we're all human afterall, that have egoooss. and im scared as fuck. Dengan ego dan emosi yang mirip dengan ibu, well, i dont know anymore. I acknowledge that mother is wise, but i dont know, maybe the way she expresses them? and my mother is just like me yo, ngomongnya ceplas ceplos thats why kadang nggak bisa diterima langsung, karena again, i also felt that, ketika ego naik banget saat ibu menuturkan pendapatnya. Bcs she is that strict. Tapi untuk saya, karena saya juga lumayan lama mengenal ibu saya since she's retired, jadi saya memang selalu "telan" dulu kata-kata ibu saya dan "menahan diri" untuk ngga give the talk back, baru saya pikirkan ketika nanti saya luang, which is biasanya akan nyadar kalau memang ya ibu saya yang benar. Huh. But its different when it comes to pasutri alias pasangan suami istri. Mungkin karena saya ini hubungannya adalah "anak dan ibu", makanya saya lebih bisa nerima karena ya gimana pun she is mother, lebih banyak makan asam garam, and yes way older. So its different when it comes to my father. Apalagi dia lebih tua. I can actually understand why the bickering happens, lagi lagi, ya karena ego. apa lagi? & to make him understand ini loh yang susah. 

Wait. kenapa jd ngomonginnya marriage lifenya bo-nyok saya ya? Tapi intinya. im afraid if later when it comes to my age, sama dengan umur marriage orang tua saya, I will make my partners unhappy yet because of my character. I'd rather single ajadah daripada lagi - lagi saya harus menyakiti dengan kestupidan sifat saya. Im uncomfortable with being villain, i want to quit but  i just dont know how.

I just wanted my 20 or 30 year later of me, later, if you just found yourself in way how my mother right now, just remember the 22 year old thought, who being the daughter that face his bickering parents, and calm your ego down. Ok darling? ok. goodbye. gue mau facial karena mingdep wisuda dan muka saya lagi berantakan. Cheers. 

Life update point 0 1 9

Hi. so its been years since last one i wrote like, life update thing. Speaking of which, im not used to write anymore. Somehow dulu saya bisa memanage masalah hidup saya dengan menulis, i wrote all the ups and down i felt, all the pros and contras and by that i could considering which one is the wiser way to overcome the probs. Now, well, i just let life flew like how it is. Im feeling numb tho. Im feeling like i become more a bitter person, selalu skeptis dengan hidup. Rasanya kayak, untuk excited over  something itu apa sih, ngapain sih, ga perlu, hidup ya nantinya akan pahit pada akhirnya, so untuk apa merayakan sesuatu yang, yaudah rasanya itu hanya small part of life phase, yang nantinya setelah hari itu, yaudah itu hanya tinggal memori, fana, dan life goes on. Belom ada seperempat abad saya sudah se bitter ini untuk jalanin hidup ya ha ha tragic. 

oh and by the way my sister has married last year and already give a birth. What a life. But i dont see the same phase like my other friends who just had niece did. Might be because i dont like children from the start. Ok dont judge me. I know you will probably like, "hah ga suka anak kecil? kamu dulu juga pernah kecil woi". Mungkin karena aku juga anak terakhir, yang ngga pernah merasakan punya adek kecil, so i cant relate. I cant even touch my sisters daughter tho. Well small thouch kayak sentuh sentuh kepala pake jari pernah, tapi yaudah, hanya itu haha. She's too fragile i just cant. 

& im graduating soon. like really soon, next week. I told my parents not to come tho haha bcs akan ribet dan fana juga, karena toh setelah ini akan masih ujian koas, dan tetep mereka masih biayain pendidikan saya untuk 1 - 2 tahun kedepannya. I want them to come when it really is over. Gitu aja, ribut woi. Kayak "hah yang bener aja masa wisuda ortu ga dateng woii" "yah kasihan dong ngga ada ortunya sendiri nanti". hm. Kalau saja waktu itu saya ngeh di web urus proses wisuda ada pilihan dateng ke wisuda atau tidak, i would choose not to. Kalau saja. But then i still press the yes button. Stupid. 

& now i have new bestfriend since KKN over. i met him at KKN last year, and he always there for me, until now. Theres a time when i doubt him karena dulu ngerasa saya cutting off people around me karena dia, but heyy thats rude jahat pol, padahal yang memilih untuk cutting off dan downsizing the circle juga karena saya sendiri, simply karena saya had found comfort space aja ketika hanya dengan dia. dan sempet drama. pol. But then heeyy its me that doing the life which i got the right to choose. Thanks to okik my bloody old friend that remind me who i am before, so that i could overcome the "barks" around me. and afterall im fine. and happy. and well happy is too exaggerating word to choose, so, im fine and everything's going well.