Sunday, March 11, 2018

Saya bertambah tua dan saya tidak suka.

Karena apa? 
Karena saya masih tetap belum bisa kontrol emosi saya. Emosi dalam hal ini bukan yang meledak-ledak saya marah-marah juga sih. Saya masih tetap seperti yang dulu. Yang energinya habis kalau terus-terusan bertemu & diharuskan talkative dengan orang. Yang biasa menutup diri, tidak mau berkomunikasi dengan orang kalau kecapekan, tidak mau diganggu, bahkan sampai menangis kalau kebutuhan "menyendiri"nya tidak terpenuhi dengan baik. Yang selalu merasa terintimidasi kalau harus berkenalan dengan orang, memulai percakapan baru dengan orang baru. 

Dan juga karena saya yang umurnya udah segini tapi pengetahuannya masih kosong. Padahal kurang lebih 2,5 tahun lagi saya sudah harus bisa mandiri menghidupi diri saya sendiri, dan 'menghidupkan' pasien saya, dari otak saya ini.  Mau jadi apa saya kalau sekarang masih kosong begini. Saya lelah terus-terusan bodoh. Bertingkah di luarnya bahagia dan baik-baik saja tapi didalam miris karena kosong. Kosong tapi nyaring bunyinya. Bacot sana-sini. Kayak sekarang ini. 

Jadi jangan ingatkan saya kalau saya bertambah tua, apalagi mengucapkan selamat. Saya tau. Dan saya tidak suka. 

Friday, March 2, 2018

Yang keempat, tahun ini saya KKN!


Lanjutan dari 

Yang keempat, tahun ini saya KKN! Kuliah kerja nyata, pengabdian masyarakat, atau apalah kau sebut itu namanya. Sistem di universitas saya mewajibkan mahasiswanya untuk ikut kuliah kerja nyata ini di sela-sela masa studinya, dimana bagi fakultas saya akan dilaksanakan di akhir bulan Juni-awal bulan Agustus 2018 nanti. Seminggu setelah Hari Raya Ramadhan. Universitas saya pun memfasilitasi lokasi di seluruh nusantara. Dan pertanyaan mainstream ditanyakan ke muda-mudi semester 6 ini, kamu KKN dimana? Jawaban saya, biar LPPM yang atur. Saya ikhlas.

Ketiga, saya punya teman baru


Lanjutan dari 

Ketiga, saya punya teman baru. Kami sempat keluar beberapa kali, dan dia orangnya baik. Saya tidak ada masalah apapun dengan sifatnya, until i find it annoying. Parah. Gimanasih bisa kebaikan orang yang terus menerus itu malah akhirnya bisa jadi annoying? Saya juga tidak paham. Pertama, mungkin dia tidak begitu paham ketika saya dari awal sudah cerita kalau saya cuman cari teman, tidak lebih. Kedua, keinginan dia untuk menjadi lebih dari teman while we are in different religion is just not my thing. Dan ketika dia akhirnya bilang kalau dia menerima saya tidak bisa menganggapnya lebih dari teman, dan akan berlaku seperti biasanya, walaupun saya mengiyakan, tapi tetap ada rasa risih. Karena saya pada akhirnya tau, kebaikan-kebaikan dia itu bukan kebaikan orang ke temannya, melainkan orang yang dia taksir. Dan saya nggak suka. Apalagi saya ini orang yang nggak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Jadi saya ngga tau sih harus bagaimana. Di satu sisi demi inner welfare saya sendiri ya saya boldly bilang, padahal saya tahu, sangat mungkin untuk menyakitkan. Tapi kalau tidak, orang ini sepertinya muka tebal sekali dan rasa-rasanya daripada saya memupuk benci, ya mending menyakiti sedikit, tapi kelar.

Yang kedua,


Lanjutan dari 2 Bulan Pertama di 2018

Yang kedua, saya baru nonton film bagus. Film yang ketika saya sudah keluar studio, saya masih dibuatnya berpikir. Film ini sedikit banyak, i could relate some of the story with mine, my story a couple years ago when i was still in the same age with the main character on this film. Jadi film ini ceritanya tentang yha whole lifenya seorang anak perempuan setingkat SMA yang rebel, dan punya mimpi untuk kuliah di luar kota tempat tinggal asalnya no matter what, tapi ditentang dan dicibir ibunya. Ibunya ini sifatnya pesimistik sekali sih, ga percayaan dengan kemampuan anaknya sendiri. Underestimate. Sangat hemat sekali. Hummmm mirip siapa ya. Ya mirip ibu-ibu pada umumnya. No offense ya, Bu Rini. Dan hidup main character (anak SMA perempuan) ini lingkungannya religius, dengan ibu yang, well, a lil bit strict (ga juga sih dibandingkan dengan ibu saya). Lalu bagaimana si pemeran utama ini mendapatkan apa yang dia inginkan, untuk tinggal merantau. Wah major spoiler sekali saya ini ya. Tak sedikit pula bikin aku seperti bercermin, meringis ketika ada satu part scene film dimana main character nya ngangkat-ngangkat banyak koper dari tangga bawah tanah stasiun, dan seketika rasanya kayak flashback. Saya menggeret-geret 2 koper raksasa ngelewatin tangga bawah tanah Stasiun Tugu, dengan percaya dirinya, tanpa menyewa porter karena merasa muda dan bisa. Hahaha. Tak sedikit pula aku berdecak kesal, berasa “Sial kenapa saya dulu bisa berpikiran kayak gitu juga ya dulu”. But with no regret sih. Ya karena hidup itu semuanya tentang berproses.

2 bulan pertama di 2018


2 bulan pertama di 2018, tidak banyak yang saya lakukan. Saya lebih suka di kosan. Melihat dunia dari dalam kamar. Satu-satunya yang berkesan, saya ikut gerakan orangufriends, Banana not Bullet. Saya & orangufriends lainnya bagi-bagi pisang di perempatan lampu merah bagian timur Tugu Yogyakarta. Banana not bullet ini bertepatan dengan peringatan hari kasih sayang pula, sebagai bentuk gerakan, kalau kita netizen Indonesia dan peduli dan bergerak. Orangutan butuh kasih sayang (pisang sebagai simbolnya), bukan peluru. Untuk yang belum tahu, tapi ini keterlaluan sih kalau kamu belum tahu, tapi baiklah, aku kasih tahu kalau kamu belum tahu, biar tidak tempe. Negara kamu ini lagi disorot dunia, karena kasus kematian orangutan dengan 130 peluru senapan angin di tubuhnya, di Kalimantan Timur, seminggu sebelum hari kasih sayang ini. Ya begitulah manusia. Saya sudah lelah komplain mengenai makhluk-makhluk satu spesies dengan saya ini. Saya cuman bisa berusaha belajar tentang makhluk-makhluk tidak satu spesies lainnya, yang banyak dirugikan oleh spesies saya. Semoga 2,5 tahun lagi, paling lama, saya sudah bisa membantu banyak mensejahterakan mereka di dunia ini.