Sunday, January 5, 2020

Imperfect?


Malam ini aku baru aja telfon ibu, dengan inisiatifku sendiri, tanpa embel-embel duit sangu bulanan habis. Simply karena kangen dan kebetulan lagi ngga ada kerjaan, plus pengen ngobrol sekalian menenangkan diri mengingat besok adalah hari Senin, kembali ke rutinitas perbudakan alias koas. Niatnya sih begitu. tapi semua berubah begitu dering videocall diangkat, dan setelah kami mengucap salam tentunya.

Aku lupa aku bukan Prajna di semester – semester awal kuliah, yang ideal, yang nggak jerawatan, yang dagunya nggak mbleber mbleber. Selupa itu sampe bikin nangis karena bukannya kalimat menyenangkan seperti yang aku bayangin, tapi malah

“ya ampun nduk itu kok jerawatmu gede”
“kamu katanya koas nanti kurus, mana?”
“nduk itu dagu apa dagu nduk?”

Hehe.

Sensitive banget ya? seorang Prajna setelah diginiin sama ibu sendiri langsung mewek kesel. Kalau kurang bisa membayangkan emosinya seperti apa, coba tonton film Imperfect. Kalau di tanggal-tanggal sekarang ini sih masih ada di bioskop. Waktu aku nonton, jujur, semerinding itu. Karena filmnya ngangkat issue yang I can relate banget dengan aktris utamanya. Berapa kali deh aku ngomong ke temen nonton ku saat itu,

“gila aku pernah diginiin”
“ih aku juga sering diginiin, anj***********”

Sama-sama punya saudara kandung (in my case, kakak) yang lebih cantik, langsing dan putih, while I was ugly right from the start.
Sama-sama insecure, ofcourse.
Sama-sama punya lingkungan yang toxic. Even dari keluarga inti.

Tapi bedanya sih ya saya ngga punya pacar seganteng Reza Rahadian aja gitu.

Bagaimana seorang Rara berubah dari yang nggak ngerawat badan ke ngerawat badan pun, sudah saya lalui sebelumnya. Bedanya Rara sudah menemukan jati dirinya, nggak insecure lagi dan keluarganya sudah menerima Rara for whatever she is tanpa ada body shaming lagi. Dan aku belum. Until now.

Aku sudah merasakan gimana rasanya punya badan yang bisa muat ke ukuran standar wanita, muka yang nggak punya bopeng dan cerah. Terawat lah intinya. Prajna di awal-awal semester di Jogja itu prajna yang lagi puber banget, pengen ngerawat diri banget. Ada bruntusan dikit di muka, langsung facial. Untuk pola makan pun, jaraang banget makan karena belum ada temen makan dijogja plus belum nemu makanan yang cocok waktu itu. Makanya bisa kurus. Pun, dulu punya pacar yang kurus tinggi dan putih macem oppa-oppa. Lol. Sorry banget plis jangan baca ya mas adit. Jadi rasanya kalau aku nggak jaga badan dan muka, ya minder lah!! Berasa kayak itik buruk rupa aja kalau lagi jalan sama doi. Di saat masa – masa itu justru aku sangat jarang olahraga. Intinya nggak makan aja yang bikin cantik. Tapi jujur ngga sehat banget. Tekanan darahku saat itu rata-rata 90/60. Sempet kena anemia juga. Happy nggakk gue menurut lo?

Sekarang? Well I consider myself happier than before tho. My blood pressure is around 115/70, I don’t really feels like I have anemia anymore, karena udah nggak nggliyeng nggliyeng pula even when I stopped taking obat tambah darah saat menstruasi. 

Aku nggak kesal dengan badanku yang belum bisa tipis lagi, tapi aku kesal karena kenapa aku harus diperlakukan seperti ini? I don’t deserve all of this. Bcs they just don’t know anything. They dont know what ive been through. I mean i know i have those big chin big butt big thigh so you dont have to remind me. Me myself too, have been through ups and down to accept all this things, so i dont really need to be reminded.  Aku kaget dengan fakta bahwa circle terdekat lu, dimana keluarga primer bisa setoksik ini.

Ive always been communicating this issue to them tho, if that’s what youre wondering. I have always tell them that Im feeling healthier this way, im feeling more alive than ever. Tapi aku bukan tipe macem Rara di film Imperfect yang bisa throwing tantrum, nangis sedrama itu untuk minta nggak diperlakukan “bodyshaming”. Yet apakah karena aku tidak menunjukkan kalau aku nggak sakit hati, lantas nggak diambil pusing kali ya?

Mungkin ngga usah telfon sering – sering, dan ngga usah pulang kampung sering – sering adalah solusi yang aku ambil saat ini.  But then I don’t know what happen next when I already graduated tho. Being back with the family. God help me. Semoga bisa ketemu “Dikanya Rara” lalu cepet ngawinin eug lalu pergi ke ujung dunia dan toxic free! Gila ngayal pol. Tapi aminin deh. Amin.  

No comments:

Post a Comment