Hola.
Saya sudah kembali di Jogja, setelah 3 minggu liburan akhir semester 5 saya habiskan di Malang, dan sekarang sudah kembali ke realitas mulai menyusun laporan penelitian, yang saya sentuh cuman 5 halaman di Malang karena terlalu banyak distraksi. Jadi yaudah, disinilah saya, sendirian di kosan karena penghuni kos lainnya masih liburan di kampung halaman masing-masing. Saya cuman menghabiskan 3 minggu di Malang dan ngga seperti liburan-liburan sebelumnya, kali ini saya banyak menghabiskan waktu sama ibu. Banyak tawaran main yang saya tolak dan abaikan, karena saya memilih di rumah atau sekedar jalan-jalan receh sama ibu. Meskipun kalau ibu saya baca postingan ini bakal mencemooh "Apanya wong seringnya di atas (re: kamar lantai atas)". No but srsly. Kalau dibandingkan liburan liburan sebelumnya, liburan semester kali ini lebih saya dedikasikan ke rumah dan ibu. Saya banyak ngobrol sama ibu. Ibu, ibu, ibu sampai sepertinya bapak saya agak cemburu karena jarang bisa membaur obrolan dengan kami. Feeling guilty i guess, karena di tahun ini saya nggak akan banyak bertemu sama ibu. Tahun ini saya harus kuliah kerja nyata, tugas dari universitas, selama 2 bulan waktu liburan akhir semester nanti. Dan setelah itu pun orang tuaku pergi haji sebulan, in which waktu liburan idul adha. Plus di semester kemarin aku hanya pulang sekali, dan tidak ada sehari di rumah karena acara, seminar, dan acara bareng teman.
Mungkin ngga cuman saya aja sih, tapi di umur 20-an ini adalah umur dimana lagi banyak-banyaknya menghabiskan waktu dengan teman. Lebih cepat merespon ajakan hangout teman dibandingkan sekedar dipanggil ibu di rumah karena mau diminta tolong nganter beliau ke mana-mana, atau sekedar melakukan pekerjaan rumah. Saya berani bilang "mungkin ngga cuman saya aja" karena, non other than me, my dearest sister, also do the same thing. Tapii, entah ini karena pengaruh saya tinggal sendiri di Jogja dan ngga banyak pulang atau gimana, ketika saya di rumah kali ini, saya menghargai setiap waktu yang saya habiskan dengan orang tua saya. Sekedar ngobrol di meja makan, atau waktu ibu lagi berkebun. Atau mungkin juga karena saya anak bungsu, yang dibilang orang akan lebih koala ke ibunya, nempel kemana-mana.
Sejujurnya saya ngga pernah ngira saya jadi bisa sedekat ini sama ibu, kalau dilihat-lihat dari masa kecil saya loh, yg bahkan dulu nangis waktu mbak ut pulang kampung (mbak yg momong saya dulu waktu kecil), bahkan pernah ikut pulang kampung mbak ut, menghabiskan libur lebaran bareng, tanpa ibu bapak atau kakak. Di ingatan saya, sedikit waktu masa kecil sampai SMP saya yang dihabiskan dengan ibu. Maklum, ibu saya pegawai bank saat itu. Kerjanya pagi, pulangnya malam. Tidur pun nggak banyak sama ibu. Kemana mana sama mbak ut. Pernah sekali saya menginap di Jakarta dan ngga ada mbak ut yang nepuk2 untuk mengantar tidur, saya ingat saya sampe nangis diam-diam. Hahaha. SD pun saya lebih banyak sendirian di rumah, karena di akhiran masa SD kelas 3 mbak ut sudah berkeluarga, jadi harus pulang dan tinggal di kampungnya. Pulang sekolah sendiri, ngambil rantang berisi makanan catering di garasi rumah. Lalu sendirian dirumah sampaaaii sore menuju malam. Ibu pun pulang malam, dan lebih banyak marah-marahnya. Karena rumah berantakan. Karena cucian piring, cucian baju, atau baju yang belum disetrika yang numpuk. Karena tanaman di tamannya kering nggak disiramin. Karena ini, karena itu, banyaklah.
Baru lewat ngobrol sama ibu saya juga sadar sih, sesedikitnya kontak langsung saya dengan ibu, tapi saya tetep tumbuh lewat pengaruh ibu. Hobi baca saya, dari siapa kalau tidak dibiasakan baca buku lima sekawan, pasukan mau tahu, sapta siaga, Totto chan, dan lain-lain sejak piyik. Meskipun ibu ngga banyak bacain buku sebelum tidur kayak mbak ut, tapi dia yang suka beli-beli buku tiap dinas ke luar kota. Dan setelah saya SMP kelas 2, saat saya sakit demam berdarah agak parah krn sampai perdarahan juga di saluran pencernaan dan masuk ICU, ibu saya berhenti bekerja. Pensiun dini. Salah satu alasan pensiun dininya beliau, katanya, karena pingin ngurus anak. Jujur saya juga rada gagal paham dengan alasan beliau. Saya yang saat itu juga merasa sudah besar, merasa bisa kemana-mana sendiri, punya teman dan sahabat yang selalu ada, berpikir alasan ibu klasik sekali. Karena toh sekarang saya sudah besar, nggak butuh ibu yang selalu ada. Sehingga alasan yang bisa saya terima saat itu yang paling masuk di logika anak SMP ya simply karena ibu capek pulang malam ngga ada faedahnya dan beliau mau bebas dari riba.
Aku pernah tanya ke ibu, kalau dia dilahirkan kembali, ibu mau kerja apa? Setelah berkali-kali nggak mau jawab karena pertanyaan aku sangat non-sense, Ibu bilang, ibu rumah tangga. Lalu aku menangkap sedikit penyesalan ibu atas kelalaian ibu mendidik aku dan kakak. Ngga masukin anak-anaknya ke sekolah islam. Aku juga sedikit menyesali sih. Karena otak-otak seumur saya ini sudah terlalu keras kalau baru dicekokin masalah agama. Sudah banyak tercemar. Tapi ya mau bagaimana lagi. Aku juga ngga menyalahkan ibu kok. Aku selalu berdoa, kalau nantinya di akhirat aku akan berbantah-bantahan sama ibu, menuntut ibu karena dia nggak ada untuk mendidik aku waktu kecil, jangan percaya ya, ibuku sudah cukup baik. Pihak ibuku aja ya, Allah. Tapi ya aku juga jangan dicelupin ke neraka. Haha. Dasar manusia banyak mau.
Karena, coba dipikir. Ibuku saat itu juga punya tuntutan 2 peran. Jadi ibu, dan jadi anak. Keadaan ekonomi keluarga ibuku tidak memungkinkan kalau ibuku tidak bekerja, masih butuh pemasukan lebih mengingat ibuku juga anak sulung dari 6 bersaudara. Mungkin ini yang terjadi di rumah tangga yang lain. Entah itu pemasukan dari suami yang belum mencukupi, pokoknya yang sampai istri pun turut andil untuk bekerja. Dan yang terjadi, anak-anaknya banyak merasa kurang terurus. Bahkan ada salah satu anak rekan kerja ibuku yang saat ini juga sudah pensiun, membelot jadi anak punk dong. P-U-N-K. Dude. Dengan dasar "mama ngga ada buat aku skrg ngapain ngatur-ngatur aku''. Lalu dia jadi rebel. Ngamen di perempatan jalan padahal keluarganya lebih dari mampu. Ngga ada cari kerja. Menikah pun enggan. Padahal ayahnya sudah menawarkan fasilitas lengkap, apabila dia berumah tangga nantinya. Dude what the hell. Ok aku memang ngga tau apa yang berputar dalam fuxked mind nya dia, atau ya mungkin karena aku mendengar ceritanya dari perspektif orang tuanya. Tapi alasan itu tahi banteng (re:bullshit) banget dong. Dan kekanakan as i say. Karena yang aku tau, mereka tetap menyewa pembantu rumah tangga sekaligus babysitter, which is ya itu salah satu bentuk responsibility krn emaknya kerja. Tidak lantas emaknya kerja lalu anaknya gegoleran di jalan cuman pakai popok, makanin cacing tanah, garuk-garuk pintu tetangga minta makan yang literally bener-bener nggak keurus, kan?
Alasan "mama ngga ada untuk aku" adalah alasan yang terlalu egois dan childish untuk km jadi rebel, kecuali kamu jadi rebel krn itu tadi, kamu bener-bener terlantar seperti gambaranku, gegoleran di jalanan cuman pakai popok, makanin cacing tanah dan garuk garuk pintu tetangga krn minta makan. Kamu terlalu ignorant untuk menjadi dewasa, untuk mengerti alasan kenapa ibumu harus memilih bekerja. Atau malah itu cuman jadi alasan pelarian karena memang dasar kamunya yang ngga mau hidup susah, wahai anak pu*nk yang punya idealisme menolak kemapanan tapi yha teteup ajaya buat pergi ke tongkrongan elu juga butuh duit untuk beli bensin dan elu juga tetep masih minta uang jajan dari orangtua lu. Kalau menurutku idealisme kamu yang "menolak kemapanan", sedikit banyak perlu diganti menjadi, ehm, menolak berpikir realistis? Menolak bekerja keras? Menolak hidup susah? Menolak mikir? Menolak punya cerebellum&cerebrum? Menolak punya gyrus dan sulcus cerebri? Menolak kedatangan dajjal pun lebih mulia dan bisa diterima di masyarakat, menurut saya. Ini knp jadi mengritik anak pu*nk. Bisa-bisa saya dicegat di jalanan ini.
Intinya, persis dengan apa yang amrazing, salah satu blogger kondang bilang di blognya, hidup itu perkara menciptakan dan merawat kenangan. Beliau kini tak lagi muda. Kita ngga akan pernah tahu berapa lama lagi untuk kita menciptakan kenangan. Dan orang tua pun pada akhirnya akan mengenang hal-hal baik tentang anaknya, jadi kenapa we as a child tend to remembering all the sh*it they did to us, instead of repairing the mistakes that they did and continuing life without looking behind, &make good memories.
Dulu yang saya sangat ingin bebas main sana sini ngga betahan dirumah, dilepas liarkan, kalau kata teman saya, dari kandang (re:rumah, karena saya nggak banyak diijinkan keluar malam), sekarang saya mulai menyadari sedikit banyak ketololan saya dalam berpikir dan mulai belajar menghargai waktu saya di rumah, cherish every moment, ceilah. Dah sih segitu aja. Baru 2 hari di Jogja dan sudah kangen ibu yang suka ngaji waktu habis subuh di sebelah saya yang melanjutkan tidur.
Semangat semester baru.
No comments:
Post a Comment